Minggu, 14 November 2010

Jemari Belati

Jejak yang kau tinggalkan di pasir pantai
telah hapus diterpa gelombang pasang
tempat anak anakmu kejar kejaran
dengan kelender yang berguguran
“Dimana rumah kita?” katamu.
Begitulah waktu berubah dari satu wajah ke wajah lain
Lalu kenapa kau masih ragu?

Lihatlah bayangmu di balik embun.
Tersenyum mengagumi jatuhnya hujan
pada rindumu yang kedinginan.
“Lalu kenapa wajah kita begitu absurd?”
kau coba memahami desir hujan
yang mematuk jendela begitu sunyi memagut cinta

Lalu kau pun berlari
menggores rindumu dengan jemari belati yang sepi


Dokumentasi Sastra Mandiri, Tbh, Nop 2010

2 komentar:

  1. saat kenangan tak berbicara hati bergetar tak bernada
    setiap waktu berjalan dalam tanda rumit
    semua warna kan tercipta dalam satu sentuhan jiwa yang bermakna.....menghantarkan raga dalam pelukannya

    BalasHapus