Jumat, 27 Mei 2011
BIARKAN AKU MENZIARAHI KUBUR HATIMU
Sekuntum mawar yang kau berikan padaku kutanamkan, kini mekarnya semekar senyummu. Maka biarkanlah aku menziarahi kubur hatimu yang kau makamkan tanpa batu nisan. Kita bukan lagi sejarah yang menceritakan kepedihan sekapal rindu dan selaut tangis yang berlompatan pada kelopak danaumu.
Mestikah kita berdusta dengan lidah sendiri bila aroma kepedihan telah melewati malam yang beratus hari menghempas dadamu dan dadaku. Kita telah menjelma serpihan bintang yang tertutup debu dalam gemerlapnya kota
Maka biarkanlah aku menzirahi kubur hatimu dan memancangkan batu nisan namamu dengan zikir kitab cinta, agar waktu merajut luka di ruang kesendirianmu dengan huruf-huruf namaku.
Sastra Mandiri, Tembilahan; 22/09/10
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar