Selasa, 27 Desember 2011

REFLEKSI NELAYAN TUA




Puisi: Hafney Maulana

Tuhan,
Kami yang merendam rambut di laut
dengan perahu-perahu
yang pecah berdarah
digigit gelombang dan karang

Tuhan,
kami telah mencatat sejarah
dari silsilah yang pantang menyerah
dan kini telah berpuluh
dari anak-anak kami
menggali kuburannya sendiri
sebab laut adalah sahabat kami

Barangkali nanti
beratus-ratus anak kami
melemparkan pukat memegang dayung
dan kemudi
sebab laut adalah bakti dan kesetiaan kami

Tuhan,
semalam seorang lagi
dari anak-anak kami
berkubur di lautMu
tapi anak-anak kami yang setia
segera menyibak ombak menentang badai
dan kami tak hendak berhenti
sampai kami letih
dan tersungkur mati

Minggu, 10 Juli 2011

BAGAI PUNGGUK




bagai pungguk, anak-anakku rindukan bulan
karena setiap tangis adalah keterasingan
melahirkan gerimis yang menabur angan-angan
dalam setiap kepiluan
aku hanya dapat mengenal tangisnya yang berlayar
dalam kesedihan airmata mengayuh tulang-tulang rindu
menuju sejarah yang kehilangan arah
lalu anak-anakku melihat orang-orang memperkosa bahasanya
yang akhirnya melahirkan badai
dimana kebenaran sudah terasing
kematian tanpa ziarah
mawar tanpa harum
air tanpa dahaga
lalu apa?

Tembilahan, 7 Juli 2011

Jumat, 27 Mei 2011

BIARKAN AKU MENZIARAHI KUBUR HATIMU




Sekuntum mawar yang kau berikan padaku kutanamkan, kini mekarnya semekar senyummu. Maka biarkanlah aku menziarahi kubur hatimu yang kau makamkan tanpa batu nisan. Kita bukan lagi sejarah yang menceritakan kepedihan sekapal rindu dan selaut tangis yang berlompatan pada kelopak danaumu.

Mestikah kita berdusta dengan lidah sendiri bila aroma kepedihan telah melewati malam yang beratus hari menghempas dadamu dan dadaku. Kita telah menjelma serpihan bintang yang tertutup debu dalam gemerlapnya kota

Maka biarkanlah aku menzirahi kubur hatimu dan memancangkan batu nisan namamu dengan zikir kitab cinta, agar waktu merajut luka di ruang kesendirianmu dengan huruf-huruf namaku.


Sastra Mandiri, Tembilahan; 22/09/10

Rabu, 25 Mei 2011

ENGKAU YANG MENANTI 2




Menanti
Di dermaga sepi yang usang
Hanya kunang-kunang
Menyelam ke ceruk kelam
Bersilang lintang
Cuma gemercik
Air surut dan air pasang
Lalu di mana lambai gelombang

Lelaki malang
Menunggu musim panjang
Angin selatan bertiup terbang
Sampai subuh menjelang


Sastra mandiri, tbh: 26-7-2010

Senin, 23 Mei 2011

PUISI, WALAU PUN PELIK TAPI BERMAKNA



Oleh: Hafney Maulana

Sudah banyak tulisan dan pembicaraan tentang puisi. Memang puisi adalah suatu yang menarik untuk dibicarakan, karena puisi lahir dari renungan dan pengalaman yang dalam dari seorang penyair.
Dalam kehidupan manusia yang dihadapkan dengan berbagai macam problema, tidak akan terlepas dengan namanya puisi. Sebab selagi membincangkan masalah kehidupan, maka ia pun memperbincangkan puisi.
Manusia tak dapat hidup tanpa puisi. Tak ada puisi tanpa kehidupan, masalah puisi adalah masalah hidup dan kehidupan. Puisi mengalir dalam hidup, bergerak dalam hidup dan membuka, mengembang bersama ke-aku-an kita lahir bathin. Hidup kita adalah manifestasi puitis.
Pada setiap zaman puisi selalu mendapat tempat di hati pencintanya. Puisi mempunyai fungsi yang istimewa saat ini, walau pun peminatnya masih sangat terbatas, karena banyak orang yang tidak mampu mengartikan makna yang terkandung dalam sebuah puisi. Sebenarnya sebuah puisi bukanlah untuk dipahami atau untuk dimengerti, puisi adalah manifestasi kehidupan harena ia adalah seni dari segala seni.
Selama kesenian ada, maka dunia ini penuh dengan puisi. Tak dapat dipungkiri memang kehidupan ini penuh dengan puisi. Mengapa kita senang melihat ombak menghempas pantai, melihat bulan, mendengarkan burung berkicau, merasa terharu pada sesuatu, karena hidup itu adalah memuisi.
Rudyard Kipling, seorang penyair Inggris mengatakan bahwa puisi mempunyai kekuatan untuk menggugah hati manusia dan mengangkah derajat hidup manusia sesuai dengan kedudukannya. Pada suatu ketika penyair Muhammad Iqbal, membacakan sajaknya yang berjudul ”Jangan Melalaikan Waktu” di hadapan filosof Hendri Bergson yang waktu itu sedang sakit lumpuh. Bayangkan, sepontan ia melompat dari kursinya setelah mendengar sajak Iqbal itu. Memang Iqbal dengan puisi-puisinya sarat dengan filsafat, waktu, budaya dan politik.
Sebuah puisi yang baik adalah lebih bernilai dari sepuluh novel konyol, kata penyair Abdul Hadi WM dalam sebuah pertemuan sastrawan di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta. Nabi Muhammad SAW, pernah berkata kepada seorang penyair Ka’ab bin Malik, ”sesungguhnya orang mukmin berzihad dengan pedang dan lidahnya. Demi Allah sesungguhnya serangan anda terhadap mereka dengan sajak-sajak anda, laksana lemparan anak panah yang tajam.”
Banyak orang yang beranggapan, puisi adalah sebuah karya sastra yang sulit, karena harus memerlukan perenungan. Puisi bukan hanya memikul bobot berat dari isinya, tetapi juga setiap baris yang dikemukakannya. Bahasa puisi memiliki karakter tersendiri yang dalam istilah bahasa disebut ’bahasa konotasi’. Bahasa konotasi ini tidak saja di dukung oleh arti material tetapi banyak berorentasi pada pengertian-pengertian non fisik yang ditopang oleh simbol-simbol emosi dan suasana hati yang kadang-dang mengandung pengertian imajinasi. Oleh karena itu puisi lahir dari pertemuan dunia bathin sumber inspirasi dan dunia bathin penyairnya. Itulah sebabnya setiap pengucapan harus lolos dari seleksi seleksi suasana bathin yang ditunjang unsur bunyi, bobot rasa, efektivitas dan lain-lain.
Puisi adalah suatu yang pelik. Sesuatu yang pelik itu biasanya cenderung jadi terasing. Sekuntum puisi menjadi tak terpahami hakekatnya jika bersifat pelik, demikian kata Tajuddin Noor Gani.
Seorang pengamat sastra barat J.J Moreno berkata: ”pelik atau tidaknya sekuntum puisi sebenarnya yang lebih penting adalah efeknya. Sekuntum puisi mampu merangsang perbuatan heroik”
Puisi, barang buatan manusia. Barang mainan seperti halnya ketapel atau sebilah pisau. Sebagai mainan mungkin saja dianggap wajib, produksi yang dianggap pokok bahkan sakral, religius, penuh cinta kasih dan terlalu romantis untuk diabaikan. Ia demikian pentingnya, tapi mungkin juga hanya agak penting atau tak penting sama sekali. Seperti juga barang mainan yang lain, ia hanya diadakan.
Benarlah apa yang dikatakan Sapardi Jokodamono, bahwa kalimat dalam puisi tak ubahnya bagai tangga, alat untuk mencapai tujuan. **

ENGKAU YANG MENANTI. 1




setelah tikam. batu-batu hitam. kelam
engkau diam menyimpan takdirmu dalam senyap dalam harap
dalam sangsi dalam mimpi. menanti.

”sampai bila kan menunggu,” kutabur kata ke ubun-ubunmu

begitu sepi. begitu sunyi. anganmu berlari. menanti. menanti
walau hati nyeri

sastra mandiri, tbh: 16-7-2010

Minggu, 22 Mei 2011

Titik Nol




1/

Masa lalu, masa kini. Dalam diri
Dalam mimpimu. Pisau semakin risau.
Menggali pikiran sendiri
Lalu: kau pilih jalan malam
Dinginnya. Dinginnya

Air mata tempat mengakarkan derita
Mengipas perjalanan panjang. Hingga terjaga
Tidurmu dalam diriku
Sebelum melangkah dalam pelayaran

Mimpimu. Kau simpan dalam sobekan bulan

2/

Katamu, rumah kita kebanjiran
Lalu merasa ada mimpi di terali. Mengibaskan tissu
Di tiang-tiang lampu

Angin pun mengigau. Menyanyikan luka lama. Berdarah
Langit mati.

Aku bersaksi: aku dan kau ada!


3/

Bismillah
Di stasiun lain
Dari malam ke malam. Rembulan menciumku
dalam kemesraan

Sabtu, 14 Mei 2011

KITA BUKANLAH PINTU



Kita bukanlah pintu yang dibuka bila pagi tiba
bukan pula pintu yang ditutup bila senja menyapa
Maka biarkanlah risalah mendedah sandiwara sekeping luka
Yang memecah aksara rindu i’tikaf bisu. Atau gelombang perih
menghempas tangis yang tak mungkin terkoyak dengan airmata

Lalu apalagi yang hendak dilakonkan
Sejarah telah jadi keluh. Mewartakan lukisan yang menggelepar
dalam waktu. Tangisan hanya dapat kita aminkan karena mimpi
telah jadi sempadan malam yang sepi.

Andai sandiwara masih sempat dilakonkan dalam kemasan gagu
Gemuruh bom waktu. Kita hanya menyaksikan kabut mengalirkan hening
ke bukit-bukit luka

Selasa, 10 Mei 2011

Sebagai Mentari Apabila Senja




Sebagai mentari apabila senja
Engkau tidak diam terkurung dalam banyangan
Oleh nostalgia yang membebaskan diri dari penderitaan cinta
Lalu apakah cinta terbunuh oleh api yang membakar dirimu?
Tak ada jarak yang menghentikan engkau
Seperti tangan yang bersilangan
Menemukan cahaya dari sumber cahaya
Yang sepanjang masa membiaskan kerinduan
Karena air mata hanyalah lonceng
Perjuangan

***

Senin, 09 Mei 2011

Gelisah

gelisah laut lahirkan ombak
gelisah rumput lahirkan rimba
gelisah awan lahirkan hujan
gelisah Adam lahirkan Hawa
dan dari gelisah itu, ketika sajadahku
membentang seribu musim
sungai-sungai menyerbu muara
rimba membuka daun-daunnya
kun fayakun-Nya berdiri di atas
niatku
rukukku
sujudku
menyusuri jalanan tasbih
dalam warna putih
menjelujur rindu

dalam jarak nadiku
kudulang
cermerlang mataku
ketika merentas mata yang tak melihat
kudulang
desau telingaku
ketika berbisik di telinga yang tak mendengar
kudulang
wangi hidungku
ketika menusuk hidung yang tak mencium
kudulang
ukir kalamku
ketika menulis kata yang tak sampai
aku pun terlahir kembali
hingga musim tak habis berganti


Tembilahan, 20 Maret 2011