Selasa, 27 Desember 2011
REFLEKSI NELAYAN TUA
Puisi: Hafney Maulana
Tuhan,
Kami yang merendam rambut di laut
dengan perahu-perahu
yang pecah berdarah
digigit gelombang dan karang
Tuhan,
kami telah mencatat sejarah
dari silsilah yang pantang menyerah
dan kini telah berpuluh
dari anak-anak kami
menggali kuburannya sendiri
sebab laut adalah sahabat kami
Barangkali nanti
beratus-ratus anak kami
melemparkan pukat memegang dayung
dan kemudi
sebab laut adalah bakti dan kesetiaan kami
Tuhan,
semalam seorang lagi
dari anak-anak kami
berkubur di lautMu
tapi anak-anak kami yang setia
segera menyibak ombak menentang badai
dan kami tak hendak berhenti
sampai kami letih
dan tersungkur mati
Langganan:
Komentar (Atom)
