Minggu, 14 November 2010

Jemari Belati

Jejak yang kau tinggalkan di pasir pantai
telah hapus diterpa gelombang pasang
tempat anak anakmu kejar kejaran
dengan kelender yang berguguran
“Dimana rumah kita?” katamu.
Begitulah waktu berubah dari satu wajah ke wajah lain
Lalu kenapa kau masih ragu?

Lihatlah bayangmu di balik embun.
Tersenyum mengagumi jatuhnya hujan
pada rindumu yang kedinginan.
“Lalu kenapa wajah kita begitu absurd?”
kau coba memahami desir hujan
yang mematuk jendela begitu sunyi memagut cinta

Lalu kau pun berlari
menggores rindumu dengan jemari belati yang sepi


Dokumentasi Sastra Mandiri, Tbh, Nop 2010

Sabtu, 13 November 2010

Bukalah Matamu

”Yang mana namaku?” tanyamu, entah kepada siapa.
Semestinya huruf-huruf yang tertera pada lembar risalah jiwamu
Kau genggam walau melangkah dalam hujan.
Kini kau terasing dan sunyi dalam kelam kabut ruh yang berlayar
Tersesat di cairan anggur walau hanya sekejap

Mestinya lakon ini sampai di sini
Tapi kau masih mengutip-ngutip wajahmu yang bersepai
Membilang mimpi dalam bingkai seribu bayang

Maka bukalah matamu
Berapa siang berapa malam kau menyisir daging yang fana
Berubah jadi jiwa yang terempas dalam semak keraguan
Terdampar di ladang-ladang anganmu

2010

Sabtu, 06 November 2010

Ijab Kabul Pengantin

Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul sebagai pengayuh biduk nasib
dari benih kemerlip bintang, sepanjang pelayaran penuh gelombang.

Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul yang kau rajut dari sambungan rambutmu dan rambutku, sepanjang pagi sepanjang malam.

Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika seekor kupu-kupu
menyelinap di bantal mimpimu semalam

Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika daun-daun tidur
dan kita pun mengekalkan jeritan manis amat sunyi dalam setiap amin


2010