Jejak yang kau tinggalkan di pasir pantai
telah hapus diterpa gelombang pasang
tempat anak anakmu kejar kejaran
dengan kelender yang berguguran
“Dimana rumah kita?” katamu.
Begitulah waktu berubah dari satu wajah ke wajah lain
Lalu kenapa kau masih ragu?
Lihatlah bayangmu di balik embun.
Tersenyum mengagumi jatuhnya hujan
pada rindumu yang kedinginan.
“Lalu kenapa wajah kita begitu absurd?”
kau coba memahami desir hujan
yang mematuk jendela begitu sunyi memagut cinta
Lalu kau pun berlari
menggores rindumu dengan jemari belati yang sepi
Dokumentasi Sastra Mandiri, Tbh, Nop 2010
Minggu, 14 November 2010
Sabtu, 13 November 2010
Bukalah Matamu
”Yang mana namaku?” tanyamu, entah kepada siapa.
Semestinya huruf-huruf yang tertera pada lembar risalah jiwamu
Kau genggam walau melangkah dalam hujan.
Kini kau terasing dan sunyi dalam kelam kabut ruh yang berlayar
Tersesat di cairan anggur walau hanya sekejap
Mestinya lakon ini sampai di sini
Tapi kau masih mengutip-ngutip wajahmu yang bersepai
Membilang mimpi dalam bingkai seribu bayang
Maka bukalah matamu
Berapa siang berapa malam kau menyisir daging yang fana
Berubah jadi jiwa yang terempas dalam semak keraguan
Terdampar di ladang-ladang anganmu
2010
Semestinya huruf-huruf yang tertera pada lembar risalah jiwamu
Kau genggam walau melangkah dalam hujan.
Kini kau terasing dan sunyi dalam kelam kabut ruh yang berlayar
Tersesat di cairan anggur walau hanya sekejap
Mestinya lakon ini sampai di sini
Tapi kau masih mengutip-ngutip wajahmu yang bersepai
Membilang mimpi dalam bingkai seribu bayang
Maka bukalah matamu
Berapa siang berapa malam kau menyisir daging yang fana
Berubah jadi jiwa yang terempas dalam semak keraguan
Terdampar di ladang-ladang anganmu
2010
Sabtu, 06 November 2010
Ijab Kabul Pengantin
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul sebagai pengayuh biduk nasib
dari benih kemerlip bintang, sepanjang pelayaran penuh gelombang.
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul yang kau rajut dari sambungan rambutmu dan rambutku, sepanjang pagi sepanjang malam.
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika seekor kupu-kupu
menyelinap di bantal mimpimu semalam
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika daun-daun tidur
dan kita pun mengekalkan jeritan manis amat sunyi dalam setiap amin
2010
dari benih kemerlip bintang, sepanjang pelayaran penuh gelombang.
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul yang kau rajut dari sambungan rambutmu dan rambutku, sepanjang pagi sepanjang malam.
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika seekor kupu-kupu
menyelinap di bantal mimpimu semalam
Telah kita ucapkan janji dalam ijab kabul ketika daun-daun tidur
dan kita pun mengekalkan jeritan manis amat sunyi dalam setiap amin
2010
Jumat, 29 Oktober 2010
KUINGIN KAU MENYAKSIKAN JERIH PAYAHMU, IBU
oleh Hafney Maulana
ketika ikan teri yang kau goreng untuk makan malamku
menyusup ke celah nadiku ada embun di bola matamu
kini telah jadi ikan kakap yang disantap anak-anakku
di meja makan
ada embun di mataku, mengenangmu.
2010
Selasa, 13 Juli 2010
Setitik Tinta selaut Bahasa
Selamat Datang
WALAU
walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas allah
1979
(Sutardji Calzoum Bachri)
AKU TAK BISA
aku tak bisa melihat
kecuali matamu
memandang nasibku
aku tak bisa bernyanyi
kecuali kau pinjamkan
firmanmu
aku tak bisa memegang
kecuali tanganmu
menggapai impianku
aku tak bisa berjalan
kecuali kakimu
menuntun langkahku
aku tak bisa...
kecuali kun fayakunmu
mengalir di ubun-ubunku
2000
(Hafney Maulana)
Langganan:
Komentar (Atom)

